Isi Blog

Tuesday, August 18, 2015

Munch Time!: Kesegaran sebuah Kesederhanaan, Es Semanggi Magelang

Tahun ini adalah tahun yang menurut saya penuh berkah. Tahun ini saya menjalani program Internship Dokter Indonesia. Program yang beberapa bulan sebelumnya membuat saya sakit kepala karena membuat jadwal menikah dan sekolah menjadi terlambat. Tetapi ini sepertinya menjadi blessing in disguise dari Yang Maha Mengetahui. Saya yang nggak bisa dolan (red: jalan-jalan) selama pendidikan jadi bisa merasakan "nikmatnya" dunia luar, ya walaupun hanya beda kota tapi tetap harus disyukuri. 


Kesempatan ini saya manfaatkan untuk menjajal kuliner Magelang. Magelang merupakan kota yang menyimpan berbagai macam kuliner yang oke punya. Mau makan mewah ada, mau makan ala pinggiran banyak, dari yang ala eropa sampai asli Indonesia semua ada. Namun dalam kesempatan kali ini saya ingin mencicipi jajanan Magelang yang sudah terkenal dari tahun 60-an, Es Semanggi. Dari hasil searching mbah google, saya mendapatkan info bahwa Es Semanggi bertempat di parkiran underground mall Matahari. Langsung saja siang selepas bekerja bersama teman-teman kami meluncur ke TKP. Sampai di sana kami menemukan sebuah kios berwarna hijau yang dikerumuni oleh orang-orang sambil menikmati segelas minuman berwarna-warni. Kami pun memesan 3 gelas es yang Alhamdulillah masih ada. Saat itu jam 3 sore dan dagangan sang pemilik kios sudah hampir habis, lucky me. Depot Es Semanggi memang sederhana, tidak ada suasana khas restoran yang formal, bangku-bangku disusun berdekatan mengelilingi kios. Bila para pengunjung tidak kebagian tempat duduk, mereka dapat menikmati es pesanan mereka di teras toko. Atau bila memang benar-benar tidak kebagian tempat duduk, mereka dapat menikmatinya sambil berdiri. Di depot ini tidak hanya disajikan es, tetapi juga berbagai macam gorengan dan bacem. Kesederhanaan ini tercermin pula pada es yang disajikan, sirup, susu, dawet (cendol), es batu, roti dan tape. Tapi anehnya, kami seperti tersihir oleh bahan-bahan sederhana tersebut. Es yang kami pesan benar-benar terasa segar dan nikmat. Inilah yang membuat Es Semanggi menjadi salah satu legenda kuliner Magelang. Saat kami di situ, kami juga bertemu dengan salah satu pengunjung yang mengaku sudah menikmati Es Semanggi sejak masih kecil, dan saat sudah bekerja di luar kota, beliau beserta keluarga tetap menyempatkan diri untuk mengunjungi depot es ini jika pulang ke Magelang, sungguh syahdu. 
Es Tape Roti dan Es Cokelat Dawet
Tidak perlu mengeluarkan puluhan ribu rupiah untuk menikmati segelas Es Semanggi. Cukup dengan 3000 sampai 7000 rupiah kita sudah bisa menikmati es yang sederhana dan segar ini. Hanya saja, pada kesempatan ini kami tidak bisa menikmati es yang jadi menu andalan Depot Es Semanggi, yaitu es plered. Lain waktu kami berharap bisa menikmati kesegarannya. Untuk jajanannya, cukup mengeluarkan uang sebesar 500-2500 rupiah. Usut punya usut, Es Semanggi punya cabang di jalan Ahmad Yani depan Radio Polaris, hanya saja saya belum tahu apakah Es Semanggi yang dijual disana sama segarnya dengan yang disini.


Es Semanggi seakan mengajari kita bahwa kebahagiaan tidak harus membutuhkan biaya mahal dan dari sesuatu yang sederhana, kita bisa mendapatkan rasa yang nimat. Itulah yang saya suka dari dunia kuliner. Kita selalu bisa mengambil kebijaksanaan dari seporsi makanan atau minuman. Sekian dulu kulineran pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan kita masih bisa bertegur sapa lewat tulisan saya pada kesempatan lainnya, sampai jumpa teman-teman semua

No comments:

Post a Comment